Maklon Sunscreen: Peluang Membuat Produk Proteksi Kulit untuk Brand

Maklon sunscreen merupakan solusi bagi brand yang ingin mengembangkan produk proteksi kulit tanpa membangun fasilitas produksi sendiri. Namun, pengembangan sunscreen tidak cukup hanya menentukan angka SPF. Brand perlu mempertimbangkan target konsumen, konsep produk, formula, bahan tabir surya, tekstur, skin feel, pengujian, packaging, klaim, regulasi, produksi, hingga quality control.
BPOM menjelaskan bahwa sunscreen dengan klaim SPF termasuk kosmetik yang wajib dinotifikasi dan dievaluasi dengan memperhatikan aspek keamanan, manfaat, serta mutu. Selain itu, angka SPF merupakan klaim kemanfaatan kosmetik sehingga penggunaannya perlu didukung secara tepat.
Karena itu, calon brand owner sebaiknya mengembangkan sunscreen secara terencana sejak tahap konsep hingga produk siap diproduksi.
Apa Itu Maklon Sunscreen?
Maklon sunscreen adalah proses pengembangan dan produksi produk tabir surya melalui perusahaan manufaktur kosmetik. Dalam proses ini, brand dapat membawa konsep dan kebutuhan produk untuk kemudian dikembangkan bersama perusahaan maklon sesuai ruang lingkup layanan yang tersedia.
Secara umum, proses pengembangan dapat mengikuti alur:
Ide Produk → Target Konsumen → Konsep → Formula → Sampel → Evaluasi dan Pengujian → Packaging → Regulasi → Produksi → Quality Control
Melalui sistem tersebut, pemilik brand dapat lebih fokus pada positioning, pemasaran, distribusi, dan pengembangan bisnis. Sementara itu, proses formulasi hingga produksi dapat dikerjakan bersama partner manufaktur.
Selain itu, PT Kosmetika Natural Herbalindo (PT KNH) menyediakan layanan pengembangan produk kosmetik. Brand yang ingin mengenal pilihan produk perawatan kulit dapat mengunjungi halaman Skin Care PT Kosmetika Natural Herbalindo.
Mengapa Sunscreen Menarik untuk Dikembangkan sebagai Produk Brand?
Sunscreen mempunyai fungsi yang jelas dalam rutinitas perawatan kulit, yaitu membantu memberikan perlindungan terhadap paparan sinar matahari sesuai klaim dan cara penggunaan produknya.
Namun, peluang mengembangkan sunscreen bukan berarti setiap brand harus menawarkan konsep yang sama. Sebaliknya, pemilik brand perlu menentukan target konsumen dan pengalaman penggunaan yang ingin diberikan.
Sebagai contoh, konsep produk dapat diarahkan untuk penggunaan sehari-hari, kulit berminyak, tekstur ringan, pengguna remaja, aktivitas outdoor, atau positioning tertentu sesuai target pasar.
Selanjutnya, konsep tersebut perlu diterjemahkan secara konsisten ke dalam formula, tekstur, packaging, klaim, harga, dan komunikasi pemasaran.
1. Tentukan Target Konsumen Sunscreen
Tahap awal maklon sunscreen sebaiknya dimulai dengan menentukan target konsumen, bukan langsung memilih angka SPF atau desain kemasan.
Pertama, tentukan siapa calon pengguna produk. Misalnya, sebuah brand ingin menyasar konsumen yang membutuhkan sunscreen untuk aktivitas sehari-hari. Produk lain mungkin dikembangkan untuk karakter penggunaan yang berbeda.
Selanjutnya, gunakan profil target konsumen tersebut sebagai dasar untuk menentukan tekstur, skin feel, packaging, positioning harga, komunikasi produk, dan arah formulasi.
Dengan demikian, semakin jelas target konsumennya, semakin mudah tim pengembangan menerjemahkan ide brand menjadi spesifikasi produk.
2. Tentukan Konsep dan Positioning Produk
Setelah target konsumen jelas, tentukan alasan konsumen mempertimbangkan produk tersebut dibandingkan pilihan lain di pasar.
Positioning dapat dibangun melalui kombinasi:
Target Konsumen → Kebutuhan → Karakter Produk → Formula → Packaging → Harga → Komunikasi
Sebagai contoh, brand dapat mengeksplorasi konsep sunscreen ringan untuk penggunaan harian. Akan tetapi, konsep tersebut tetap perlu diterjemahkan menjadi formula yang realistis dan klaim yang dapat dipertanggungjawabkan.
Oleh karena itu, hindari menentukan terlalu banyak klaim sejak awal. Sebaliknya, prioritaskan konsep yang jelas, relevan dengan target konsumen, dan memungkinkan untuk dikembangkan secara teknis.
3. Pilih Format dan Tekstur Sunscreen
Tekstur menjadi salah satu aspek penting karena sunscreen diaplikasikan langsung pada kulit.
BPOM menjelaskan bahwa tekstur dan kekentalan sunscreen tidak berkorelasi langsung dengan nilai SPF. Selain itu, BPOM memberikan contoh bahwa sunscreen berbasis air atau gel dapat menjadi pilihan untuk kulit berminyak, sedangkan produk berbasis minyak atau cream dapat digunakan untuk kulit kering.
Karena itu, brand tidak sebaiknya menentukan efektivitas sunscreen hanya berdasarkan bentuk gel, lotion, atau cream.
Sebaliknya, pemilihan tekstur perlu disesuaikan dengan konsep dan pengalaman penggunaan yang ingin dibangun. Brand dapat mendiskusikan karakter seperti kemudahan diratakan, kenyamanan setelah aplikasi, tingkat kekentalan, finishing, dan pengalaman penggunaan lainnya bersama tim formulasi.
Informasi kategori produk skincare lainnya juga dapat dipelajari melalui halaman Skin Care PT KNH.
4. Pahami SPF dan Klaim Proteksi
SPF merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan sunscreen.
Menurut penjelasan BPOM pada 2023, SPF merupakan klaim kemanfaatan kosmetik berupa angka yang mengacu pada tingkat perlindungan terhadap sinar matahari. Selain itu, BPOM menjelaskan bahwa sunscreen tidak memberikan perlindungan 100% terhadap paparan sinar matahari.
Karena itu, brand tidak sebaiknya menentukan angka SPF hanya sebagai daya tarik pemasaran tanpa mempertimbangkan formula dan pembuktian klaim.
Dalam proses maklon sunscreen, target SPF sebaiknya dibicarakan sejak tahap pengembangan. Sebab, target tersebut akan berkaitan dengan formulasi dan evaluasi produk.
Di sisi lain, brand juga perlu berhati-hati ketika membuat klaim pada label, marketplace, website, materi promosi, dan media sosial.
Untuk mengetahui penjelasan regulator, brand owner dapat membaca informasi resmi BPOM mengenai kosmetik tabir surya dengan klaim SPF.
5. Perhatikan Bahan Tabir Surya yang Digunakan
Pengembangan sunscreen membutuhkan pemilihan bahan yang sesuai dengan konsep formula dan regulasi.
Brand owner tidak harus menentukan seluruh bahan sendiri. Namun, penting untuk memahami bahwa penggunaan bahan tabir surya mempunyai batasan dan persyaratan tertentu.
Daftar resmi BPOM mencantumkan bahan tabir surya yang diizinkan dalam kosmetik beserta batas penggunaan dan persyaratan yang berlaku.
Karena itu, formulasi sunscreen sebaiknya dikembangkan bersama tim yang memahami formulasi dan ketentuan bahan kosmetik.
Selain memenuhi aspek regulasi, pemilihan bahan perlu mempertimbangkan kompatibilitas formula, karakter produk, stabilitas, serta target pengalaman penggunaan.
Brand owner dapat memeriksa database resmi BPOM mengenai bahan tabir surya yang diizinkan dalam kosmetik sebagai salah satu referensi regulasi.
6. Skin Feel Penting untuk Pengalaman Konsumen
Sunscreen dapat mempunyai spesifikasi yang baik, tetapi konsumen juga akan menilai pengalaman saat menggunakannya.
Oleh sebab itu, proses maklon sunscreen perlu mempertimbangkan skin feel. Beberapa karakter yang dapat dievaluasi meliputi kemudahan diratakan, rasa setelah aplikasi, finishing, aroma, kekentalan, dan karakter sensorik lainnya.
Sebagai contoh, produk yang diposisikan untuk penggunaan sehari-hari mungkin membutuhkan pengalaman penggunaan berbeda dari sunscreen dengan konsep aktivitas outdoor.
Dengan demikian, tidak ada satu karakter tekstur yang otomatis paling baik untuk semua brand. Formula perlu disesuaikan dengan target pengguna dan positioning produk.
7. Buat Sampel Sebelum Masuk Produksi
Sampel menjadi tahapan penting untuk menerjemahkan konsep menjadi produk nyata.
Pada tahap ini, brand dapat mengevaluasi apakah formula yang dikembangkan sudah mendekati brief awal. Evaluasi dapat mencakup tekstur, warna, aroma, kemudahan aplikasi, finishing, serta karakter sensorik lainnya.
Jika hasilnya belum sesuai, tim R&D dapat melakukan penyesuaian sebelum formula ditetapkan.
Dengan demikian, produksi massal tidak dilakukan hanya berdasarkan konsep awal. Brand mempunyai kesempatan untuk mengevaluasi sampel terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Proses tersebut juga membantu brand menyelaraskan formula dengan packaging, positioning, dan pengalaman penggunaan yang ingin dibangun.
8. Pengujian Sunscreen Tidak Boleh Diabaikan
Salah satu kesalahan dalam pengembangan sunscreen adalah terlalu fokus pada angka SPF yang ingin dicantumkan pada kemasan.
Padahal, klaim produk perlu dapat dipertanggungjawabkan. BPOM pernah menyoroti sunscreen dengan klaim SPF dan menegaskan pentingnya aspek keamanan, manfaat, serta mutu.
Karena itu, jenis evaluasi atau pengujian yang diperlukan perlu disesuaikan dengan formula, karakter produk, klaim yang digunakan, serta regulasi yang berlaku.
Sebaiknya, kebutuhan tersebut sudah dibicarakan bersama partner manufaktur sejak tahap pengembangan, bukan setelah packaging selesai dicetak.
Pendekatan tersebut juga dapat mengurangi risiko terjadinya ketidaksesuaian antara formula, hasil evaluasi, klaim produk, dan informasi pada kemasan.
9. Sesuaikan Packaging dengan Formula dan Positioning
Packaging mempunyai fungsi teknis sekaligus komersial.
Dari sisi teknis, kemasan perlu sesuai dengan karakter formula dan membantu menjaga produk selama penyimpanan serta penggunaan. Sementara itu, dari sisi branding, packaging perlu mendukung positioning produk.
Sebagai contoh, sunscreen praktis untuk penggunaan harian dapat membutuhkan pendekatan kemasan berbeda dari produk yang diarahkan pada segmen premium.
Selain desain visual, brand perlu memperhatikan informasi yang dicantumkan pada kemasan.
BPOM mengatur penandaan, promosi, dan iklan kosmetik melalui regulasi yang berlaku. Oleh karena itu, desain packaging sebaiknya dikembangkan bersamaan dengan evaluasi formula, klaim, dan kebutuhan regulasi.
Dengan cara tersebut, brand tidak hanya mengejar tampilan kemasan yang menarik, tetapi juga mempertimbangkan informasi produk secara tepat.
10. Pahami BPOM, CPKB, dan Halal
BPOM, CPKB, dan sertifikasi halal sering dibicarakan dalam proses pengembangan kosmetik. Namun, ketiganya mempunyai fungsi berbeda.
Notifikasi BPOM berkaitan dengan mekanisme notifikasi kosmetik sebelum produk diedarkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, CPKB berkaitan dengan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik pada fasilitas industri kosmetik.
Adapun sertifikasi halal berada dalam kerangka Jaminan Produk Halal dan bukan pengganti notifikasi BPOM maupun CPKB.
Dengan demikian:
BPOM ≠ CPKB ≠ Sertifikasi Halal
Perbedaan tersebut perlu dipahami agar brand tidak memberikan informasi legalitas yang keliru kepada konsumen.
Selain itu, menjelang implementasi kewajiban halal untuk kategori kosmetik sesuai tahapan regulasi, kebutuhan halal sebaiknya sudah dibicarakan bersama partner manufaktur sejak tahap pengembangan formula dan pemilihan bahan.
Maklon Sunscreen dan Quality Control
Produksi massal bukan akhir dari proses pengembangan.
Quality control menjadi bagian penting untuk membantu memastikan produk yang diproduksi sesuai dengan spesifikasi dan standar proses yang ditetapkan.
Dalam proses pengembangan, aspek QC dapat berkaitan dengan pemeriksaan bahan, proses produksi, produk antara, produk jadi, maupun parameter lain sesuai sistem dan kebutuhan manufaktur.
Oleh karena itu, calon brand owner sebaiknya tidak hanya menanyakan apakah perusahaan dapat memproduksi sunscreen. Tanyakan juga bagaimana tahapan pengembangan, produksi, dokumentasi, dan quality control dilakukan.
Dokumentasi nyata aktivitas R&D, diskusi pengembangan produk, proses produksi, maupun quality control PT Kosmetika Natural Herbalindo dapat ditempatkan pada bagian ini untuk memperkuat unsur Experience dalam E-E-A-T.
ALT image dokumentasi: Dokumentasi proses maklon sunscreen PT Kosmetika Natural Herbalindo
Pengembangan Produk Bersama PT Kosmetika Natural Herbalindo
PT Kosmetika Natural Herbalindo menyediakan layanan pengembangan dan maklon produk kosmetik untuk calon pemilik brand.
Berdasarkan informasi yang tersedia pada website perusahaan, kategori produk yang dapat dikembangkan mencakup berbagai jenis skin care. Sunscreen juga tercantum dalam kategori tersebut.
Hal ini relevan bagi brand owner yang ingin mengembangkan produk proteksi kulit sebagai bagian dari lini skincare.
Selain sunscreen, brand dapat mengeksplorasi kategori skincare lain melalui halaman Skin Care PT Kosmetika Natural Herbalindo.
Dalam praktik pengembangan produk, konsep perlu diterjemahkan menjadi formula, sampel, packaging, kebutuhan regulasi, produksi, dan quality control. Karena itu, konsultasi awal dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan target konsumen, positioning, karakter produk, serta kebutuhan brand.
Namun, proses maklon tidak berarti sebuah produk otomatis memperoleh notifikasi BPOM, sertifikasi halal, atau pasti berhasil di pasar. Setiap proses regulasi tetap harus memenuhi ketentuan lembaga terkait. Sementara itu, keberhasilan komersial juga dipengaruhi positioning, harga, pemasaran, distribusi, dan penerimaan konsumen.
Legalitas, Keamanan, dan Kepercayaan Konsumen
Pengembangan sunscreen tidak berhenti ketika produk terlihat menarik.
Legalitas, keamanan, transparansi informasi, kualitas produksi, dan komunikasi klaim saling berkaitan dalam membangun kepercayaan konsumen.
Misalnya, klaim SPF tidak sebaiknya digunakan hanya sebagai daya tarik pemasaran tanpa dasar yang sesuai. Informasi mengenai manfaat produk juga perlu dikomunikasikan secara bertanggung jawab.
Selain itu, brand perlu memastikan bahwa informasi pada packaging dan materi promosi tidak berlebihan atau menyesatkan.
BPOM menegaskan bahwa ketentuan penandaan, promosi, dan iklan kosmetik wajib diperhatikan oleh pelaku usaha. Brand dapat mempelajari informasi tersebut melalui website resmi BPOM RI.
Dengan demikian, kepatuhan regulasi bukan hanya persoalan administratif. Transparansi informasi dan konsistensi kualitas juga berperan dalam membangun kepercayaan terhadap produk.
Dari Produk Sunscreen ke Strategi Brand
Formula yang baik merupakan fondasi penting. Namun, produk tetap membutuhkan strategi bisnis yang jelas.
Brand perlu menentukan target konsumen, positioning, harga, channel distribusi, komunikasi pemasaran, dan rencana pengembangan produk berikutnya.
Sebagai contoh, sunscreen dapat ditempatkan sebagai hero product atau menjadi bagian dari rangkaian skincare bersama cleanser, toner, serum, dan moisturizer. Keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan model bisnis dan target pasar.
Oleh karena itu, pengembangan produk dan strategi bisnis sebaiknya berjalan beriringan.
Untuk perspektif pengembangan bisnis yang lebih luas, brand owner dapat mempelajari ekosistem layanan melalui EFBA Digital Mulia.
Checklist Sebelum Memulai Maklon Sunscreen
Sebelum melakukan konsultasi maklon sunscreen, brand owner dapat menyiapkan beberapa informasi dasar.
Pertama, tentukan target konsumen dan positioning produk. Selanjutnya, buat gambaran mengenai tekstur, skin feel, karakter penggunaan, target SPF atau klaim yang ingin dieksplorasi, serta preferensi packaging.
Setelah itu, diskusikan konsep tersebut bersama tim R&D untuk melihat kemungkinan formulasi dan kebutuhan evaluasinya.
Brand juga perlu membicarakan aspek regulasi, pengujian yang relevan, kebutuhan produksi, serta quality control sebelum produk masuk produksi massal.
Dengan persiapan tersebut, konsultasi dapat berjalan lebih terarah tanpa mengharuskan brand datang dengan formula yang sudah jadi.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Membuat Sunscreen
Kesalahan pertama adalah hanya berfokus pada angka SPF.
Selanjutnya, hindari menentukan terlalu banyak klaim sebelum formula dan kebutuhan pembuktiannya jelas.
Brand juga sebaiknya tidak langsung mencetak packaging ketika formula, klaim, dan informasi regulasi masih dalam tahap evaluasi.
Selain itu, memilih konsep hanya karena sedang tren dapat membuat positioning produk kurang jelas apabila tidak sesuai dengan target konsumen.
Terakhir, jangan menganggap perusahaan maklon dapat menjamin produk pasti berhasil di pasar. Manufaktur merupakan salah satu bagian dari pembangunan brand. Strategi produk, harga, pemasaran, distribusi, dan pengalaman konsumen tetap memengaruhi performa bisnis.
FAQ Maklon Sunscreen
Apa itu maklon sunscreen?
Maklon sunscreen adalah layanan pengembangan dan produksi sunscreen melalui perusahaan manufaktur kosmetik. Prosesnya dapat mencakup konsep produk, formulasi, sampel, packaging, persiapan regulasi, produksi, dan quality control sesuai ruang lingkup layanan perusahaan.
Apakah brand bisa menentukan SPF sunscreen?
Brand dapat mendiskusikan target SPF pada tahap pengembangan. Namun, angka SPF merupakan klaim kemanfaatan kosmetik sehingga formula dan pembuktian klaim perlu diperhatikan.
Apakah semakin kental sunscreen berarti SPF semakin tinggi?
Tidak. BPOM menjelaskan bahwa tekstur dan kekentalan sunscreen tidak berkorelasi langsung dengan nilai SPF. Oleh sebab itu, karakter tekstur tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator tingkat perlindungan produk.
Apakah maklon sunscreen harus BPOM?
Kosmetik yang akan diedarkan di Indonesia perlu mengikuti ketentuan notifikasi kosmetik BPOM yang berlaku. Khusus sunscreen dengan klaim SPF, BPOM juga menekankan evaluasi terhadap aspek keamanan, manfaat, dan mutu.
Apakah sunscreen yang sudah BPOM otomatis halal?
Tidak. Notifikasi BPOM dan sertifikasi halal merupakan proses yang berbeda. CPKB juga memiliki fungsi tersendiri dan tidak boleh disamakan dengan keduanya.
Apakah PT Kosmetika Natural Herbalindo dapat mengembangkan sunscreen?
Website PT Kosmetika Natural Herbalindo mencantumkan sunscreen sebagai salah satu kategori produk skin care. Calon brand owner dapat mendiskusikan kebutuhan pengembangan produknya dengan perusahaan sesuai layanan yang tersedia.
Apa yang perlu disiapkan sebelum konsultasi maklon sunscreen?
Brand sebaiknya menyiapkan target konsumen, positioning, konsep produk, preferensi tekstur, karakter penggunaan, target klaim yang ingin dieksplorasi, packaging, serta rencana pemasaran. Selanjutnya, detail formula dapat dibahas bersama tim R&D.
Apakah maklon sunscreen langsung masuk produksi?
Tidak selalu. Pengembangan produk umumnya membutuhkan beberapa tahap sebelum produksi, seperti konsultasi konsep, formulasi, pembuatan sampel, evaluasi, kebutuhan pengujian, packaging, dan persiapan regulasi.
Mulai Pengembangan Sunscreen untuk Brand Anda
Maklon sunscreen membutuhkan lebih dari sekadar memilih angka SPF dan desain kemasan. Brand perlu menghubungkan target konsumen, positioning, formula, bahan, tekstur, skin feel, sampel, pengujian, packaging, regulasi, produksi, dan quality control.
Pertama, tentukan target konsumen dan konsep produk. Selanjutnya, kembangkan formula serta sampel bersama tim R&D. Setelah formula sesuai, lakukan evaluasi dan pengujian yang relevan sebelum melanjutkan ke packaging, regulasi, dan produksi.
Alurnya dapat dirangkum menjadi:
Ide Produk → Target Market → Konsep → Formula → Sampel → Evaluasi/Pengujian → Packaging → Regulasi → Produksi → Quality Control
Jika Anda sedang merencanakan sunscreen untuk brand skincare, pelajari pilihan produk melalui Skin Care PT Kosmetika Natural Herbalindo dan konsultasikan konsep pengembangan melalui PT Kosmetika Natural Herbalindo.
Dengan perencanaan sejak awal, brand dapat mengembangkan sunscreen yang tidak hanya memiliki konsep menarik, tetapi juga mempertimbangkan formula, keamanan, klaim, legalitas, kualitas produksi, transparansi, dan kebutuhan konsumen.
